Tidak Main-main! Begini Pernyataan Tegas Alumni UGM terhadap Dwi Estiningsih yang Sebut Pahlawan Kafir




Beritaterheboh.com - Pernyataan Pers Alumni UGM. Kami yang mengundang Anda, adalah alumni yang dididik untuk berbakti pada bangsa ini dan untuk senantiasa menolong sesama. Dalam kehidupan keseharian masing-masing kami memiliki profesi yang beragam, tapi dipersatukan oleh cita-cita untuk menyumbang bagi bangsa.

Kadang cara kami unik, ada yang jualan kaos untuk menolong pendidikan anak-anak terlantar di berbagai pelosok nusantara. Terakhir kami menjual kaos bergambar lebaran kuda dan tulisan 212 untuk membantu anak-anak di NTT yang harus menyeberang sungai.


Kami belum dapat membuatkan mereka jembatan, tapi kami lalukan yang kami sanggup, kami bekali mereka dengan dry bag supaya perlengkapan alat tulis tidak basah. Secara rutin kami juga mengumpulkan dana untuk beasiswa bagi mahasiswa di UGM dan di level yang lebih rendah.


Lestari Octavia (alumni F MIPA, sekarang menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Jakarta) menyebutkan ‘animo rekan-rekan alumni untuk senantiasa membantu yang membutuhkan itu sangat besar dan dengan cara yang kreatif.


Menjual buku untuk menambah saldo beasiswa Kagama juga dilakukan, hingga hari ini. Setiap bertemu dan kami makan, semua orang membayar lebih dan pasti selalu sisa. Itu semua akhirnya menjadi dana bagi beasiswa. Hingga kini sudah hampir Rp 500 juta dikumpulkan dari teman-teman alumni untuk membantu biaya hidup adik-adik UGM.


Kami peduli dengan ancaman terhadap kebhinekaan bangsa ini. Kita memahami bahwa negara sebesar ini dengan keragaman suku, bahasa, agama dan pandangan politik perlu dikelola dengan hati-hati. Salah melangkah akan bisa berakibat hancurnya negara besar ini.


Sebagian besar dorongan perpecahan itu menurut kami lebih banyak dari factor-faktor domestic. Haryoko Wirjosoetomo (alumni Fakultas Psikologi UGM, sehari-hari bekerja sebagai konsultan analisis dan mitigasi risiko keamanan bagi perusahaan yang bernilai strategis) menyatakan, ‘negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Australia, RRC, Jepang, dll itu sangat ingin Indonesia utuh, tetapi justru mereka melihat bahwa di dalam negeri ini dorongan untuk pecah itu menguat’.


Taufiq Alimi (alumni Teknik Nuklir UGM, mantan Ketua Dewan Kehutanan dan pimpinan lembaga konservasi internasional) menyatakan bahwa negara besar itu ingin Indonesia utuh karena akan berpengaruh besar pada kestabilan wilayah. Indonesia yang stabil juga pasar penting bagi negara-negara itu. Letak geografis Indonesia juga penting bagi arus perdagangan negara-negara itu ke pasar mereka di India, Afrika, dll’.


Karena itu sungguh kami kaget ketika ada alumni kami Dwi Estianingsih (DE) yang mengeluarkan cuitan yang bernuansa SARA, mendorong disintegrasi, dan mengingkari semangat kebangsaan. Cuitan DE di twitter yang menggugat proporsi pahlawan non muslim dalam lembaran uang baru, dan penyebutan yang berkonotasi merendahkan dan melecehkan agama non Islam telah memicu perdebatan mengenai perbedaan menjadi permusuhan.


Pernyataan sikap kami ini merupakan reaksi spontan dari kami yang merasa terpanggil dan resah. Kami resah karena salah satu tokoh yang dipersoalkan adalah mantan rektor kami dan guru besar yang kami hormati, Prof. Herman Johannes. Beliau adalah guru kami yang terlah terbukti dan teruji perannya dalam perang kemerdekaan, terbukti pengabdiannya dalam Alumni UGM Bersikap terhadap Cuitan Dwi Estiningsih


Bagi warga UGM, Prof. Herman Johannes bukan sekedar salah satu professor di UGM. Beliau adalah professor yang memilih mengabdikan diri di bidang kependidikan dengan menjadi dosen setelah tuntas berjuang secara fisik dan bersenjtata dalam Perang Kemerdekaan.


Beliau adalah pejuang di medan perang yang mempertaruhkan nyawanya, membantu para pejuang lain untuk mendapatkan alat peledak yang berguna bagi perlawanan terhadap penjajah pada agresi Belanda I dan II. Ketika selesai, beliau kembali ke dunianya dunia pendidikan hingga menjadi professor dan meninggal sebagai pendidik.


Awalnya Herman Johannes diminta membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, karena pemerintah Indonesia saat itu sedang mengalami krisis persenjataan. Dari sebuah laboratorium di Kotabaru Herman Johannes berhasil memproduksi bemacam bahan peledak, seperti bom asap dan granat tangan.


Keahlian Herman Johannes sebagai fisikawan dan kimiawan ternyata berguna meledakkan jembatan yang menghambat laju agresi Belanda. Bulan Desember 1948, Letkol Soeharto sebagai Komandan Resimen XXII TNI yang membawahi daerah Yogyakarta meminta Herman Johannes memasang bom di jembatan kereta api Sungai Progo.


Karena ia menguasai teori jembatan saat bersekolah di Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung di Jogja, Herman Johannes bisa membantu pemasangan bom secara efektif dan membuatnya hancur berkeping-keping. Januari 1949, Kolonel GPH Djatikoesoemo meminta Herman Johannes bergabung dengan pasukan Akademi Militer di sektor Sub-Wehrkreise 104 Yogyakarta.


Dengan markas komando di Desa Kringinan dekat Candi Kalasan, lagi-lagi Herman Johannes diminta meledakkan Jembatan Bogem yang membentang di atas Sungai Opak. Jembatan akhirnya hancur dan satu persatu jembatan antara Yogya-Solo dan Yogya-Kaliurang berhasil dihancurkan Johannes bersama para taruna Akademi Militer.


Aksi gerilya ini melumpuhkan aktivitas pasukan Belanda sebab mereka harus memutar jauh mengelilingi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu melewati Magelang dan Salatiga untuk bisa masuk ke wilayah Yogyakarta.


Pengalamannya bergerilya membuat Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibukota Republik selama enam jam. Herman Johannes mempertaruhkan nyawanya dalam berbagai pertempuran itu di wilayah yang jauh dari tempat kelahirannya, di wilayah yang orang-orangnya sebagian besar berbeda agama dengannya.


Kami yakin Herman Johannes saat itu tidak berpikir soal agama dia yang berbeda dengan mayoritas warga yang bertempur di pihaknya, atau kesamaan agama antara dia dan para penjajah. Dia hanya tahu dia sedang membela tanah airnya.


Setelah perang usai, sesuai permintaannya, Herman Johannes kembali ke kampus untuk menjadi pendidik, mendirikan Fakultas Teknik UGM (semula merupakan Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogyakarta). Belakangan Prof Herman Johannes bahkan menjadi rektor UGM (1961-1966).


Kami adalah anak didik beliau. Beberapa dari kami dididik langsung oleh Prof Herman Johannes, beberapa mendapat ilmu lewat kuliah umum, atau mendapat ilmu dari para dosen yang dulu diajar oleh Prof. Herman Johannes.


Karena itu, kami sekelompok alumni UGM sangat kaget mendengar pernyataan Dwi Estiningsih (DE) yang mempersoalkan agama para pahlawan, termasuk agama Prof Herman Johannes. Prof. Herman Johannes dan seluruh pendidik UGM tidak pernah mengajarkan sikap dan pandangan sektarian, diskriminatif, dan disintegratif.


Kami sesama alumni UGM merasa sangat berkeberatan dengan pandangan DE yang tidak mencerminkan nilai yang ditanamkan UGM kepada mahasiswanya. Kami dididik untuk memberikan bakti, berjanji memenuhi panggilan bangsa dalam kerangka Pancasila, seperti lirik lagu hymne Gadjah Mada yang dihapal semua mahasiswa dan alumni UGM.


Untuk itu kami yang bertanda tangan di bawah ini, mengundang para alumni yang lain sepandangan dan sependapat dengan kami untuk bersikap.


Kami mendukung gugatan yang diajukan oleh Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia (Forkapri) melalui Sekretaris organisasi, Achmad Zaenal Effendi ke Polda Metro Jaya mendukung laporan yang dilakukan Gerakan Masyarakat Bhinneka ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong agar Polri mempercepat penyidikan kasus ini dan secara khusus dapat menerapkan Pasal 28 ayat 2 dan pasal 45A ayat 2 UU no 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).


Untuk itu kami mengundang alumni lain untuk mendukung sikap ini dengan ikut menandatangani pernyataan sikap ini meminta UGM agar bersikap dan memberikan sanksi yang dimungkinkan secara procedural, legal dan moral.


Kami yang bersikap :


Taufiq Alimi
Nina Ulfah Nulatutadjie
Haryoko Wirjosoetomo
Lestari Octavia
Sri Yanto
Eko Subagyo
Noor Rahmani
Yessie Nurcahyani
Bambang N Karim
Aji Darundriyo
Hanif Nur Widhiyanti
Tantono Subagyo
Arief Kresno Wibowo
Elvin Tobing
Bob Eriyanto
Agnes Eni S
Eriawan Sulistianto
Mei Raharja
Seno Aji
Rm Donny Surya Megananda
Dariah
Achmad Syahirul
Esau A. Tambang
Fahdi Faaz
Wahyu Widodo
Wahyu Widodo
Dwi Wahyu Haryanto
Taufan Arhammar
Dyna Andriani
Muhammad Munawar
Sri saptorini
Aryani adami
Jhon Mauritz Silaban
Hasto atmoko
Puspita nursari
Niko Tovani
Radyah Maharastri
Diding Sukowiradi
Recht Dian Widha Putra
Hury Anggoro Saputro
Ferry Fahrizha
Novian Wijaya
Iwan M Septeriansyah
Imam Sulistyo
Mokhamad Iksan
Probondari
Danis Subyantoro
Nurhadi Nurhadi
Siti Ruhama Mardhatillah
Syaeful Bangsari
Eltric Yoga Wuru Nugroho
Yohanes Guntur Sustain
Moehhamad Cahirudin
Yanuar Agung Raharja
Yunita
Nur Laeliyatul Masruroh
Iswandanu Widanarko

Didi Indhyarso
Agung Wibowo
Aris Arnadi
Misgianto
Purwanti Sri Pudyastuti
Nikolaus Loy
Efron Dwi Poyo
Arwandrija Rukma
Dwi Baru Raharja
Boedhi Margono
Drajad Wiryawan
Gusni Rusdi
Raga Affandi
Agus Balela
Agung Sulistiyo
Neny Triana
Retno Agustin
Elisabeth Simatupang
Riris Andono Ahmad
Fron Tavip
Budi Wiyono Onggodinoyo 70. Yoghi Budhiyanto
Hariyo Santosa
Irawati Wardhani
Farih Fakhrian Nugroho
Hermi Selalu Kusuma
Kristiana E Widijastuti
Yanti Dewi
Lany Rohmaniah
Victoriana
Dian Milasari
Binsar Tison Gultom
Early Dwi Nuriana
Nurhadi
Wied Wiwoho WInaktoe
Shoumi Damayanti
Friska Dyana Panjaitan
Bambang Witjaksono
Muh. Ma’rufin Sudibyo
Dian Permatasari
Rika S
Eko Purwanto
Alfan Faizin
Arsita Resmisari





 

Oleh Birgaldo Sinaga

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Tidak Main-main! Begini Pernyataan Tegas Alumni UGM terhadap Dwi Estiningsih yang Sebut Pahlawan Kafir"

Note: only a member of this blog may post a comment.