Semakin Terbongkar...!! Selain Sebut SBY, Antasari Juga Sebut Nama Ibas dan Hatta Rajasa




Beritaterheboh.com - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar tidak hanya menyebut nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai orang yang diduga sebagai inisiator kriminalisasi kasusnya, dia juga menyebut dua nama lain yakni Eddy "Ibas" Baskoro dan Hatta Rajasa. Kedua nama itu disebut dalam rangkaian cerita yang berbeda.

Nama Eddy Baskoro muncul sebagai orang yang diduga melakukan pembelian alat informasi dan teknologi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun, belum juga dipakai, KPU melarang penggunaan alat tersebut.

Permasalahan ini lah yang sedang diselidiki oleh KPK ketika itu. Bahkan, Antasari mengutus seseorang ke kantor KPU dan bertanya mengenai alat TI yang malah digrounded.

“Tetapi belum sampai ke sana untuk diusut, saya sudah diusut duluan,” ujar Antasari ketika diwawancarai secara eksklusif oleh Metro TV di program Prime Time pada Selasa malam, 14 Februari.

Nama Ibas pun baru didengar Antasari setelah KPK melakukan proses penyelidikan terhadap kasus itu. Sementara, di saat bersamaan KPK tengah menangani kasus korupsi aliran dana Yayasan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (YLPPI) yang melibatkan besan SBY, Aulia Pohan.

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia itu sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, Aulia memang belum ditahan.

Pada saat itulah kediaman Antasari di daerah Bumi Serpong Damai (BSD) didatangi oleh seorang pengusaha media yang belakangan disebut sebagai Hary Tanoesudibjo. Kedatangan pria yang akrab disapa HT itu membawa misi dari Cikeas agar Aulia tidak ditahan.

“Saya tanya Cikeas itu siapa? Lalu, dia menyebut nama itu (SBY),” tutur dia.

Antasari menyebut pertemuannya dengan HT disaksikan oleh beberapa orang termasuk adik, istri, ajudan dan pengawal pribadi semasa dia bertugas di KPK. Karena tidak menyangka konsekuensi yang akan menimpa dirinya, Antasari menganggap pertemuan itu biasa saja.

Oleh sebab itu, dia tidak mencatat jam berapa dia bertemu dengan HT. Pun, dia juga tidak menceritakan pertemuan tersebut kepada komisioner KPK lainnya.

Antasari juga tidak penasaran mengapa SBY harus mengutus HT untuk menemuinya. Dia hanya menduga lantaran HT adalah pengusaha ternama sehingga memiliki akses ke pemimpin negara termasuk SBY.

Permintaan SBY agar Aulia Pohan tidak ditahan kemudian ditolak oleh Antasari. HT tetap bersikeras memohon, tetapi tidak direspons positif.

Di saat bersamaan, kata Antasari, KPK juga baru saja menerima laporan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk kasus Bank Century. Di mana ketiga kasus tersebut diduga melibatkan orang-orang yang dekat dengan SBY.

Peran mediator

Keputusan untuk menahan Aulia Pohan sudah ditetapkan bersama oleh seluruh komisioner. Lantaran itu pula, Antasari sempat dipanggil ke Istana Negara oleh SBY. Ketua Umum Partai Demokrat itu meminta agar sebelum Aulia ditahan, maka dilaporkan dulu ke dia.

“Itu yang berbicara adalah Pak SBY sendiri langsung kepada saya,” kata dia.

Tetapi, dalam kapasitasnya sebagai Ketua KPK dan Presiden, Antasari menilai hal tersebut tidak etis. Apalagi gerak mereka selalu terpantau oleh kamera media. Maka SBY kemudian menyarankan agar komunikasi keduanya dijembatani oleh seorang mediator.

Dipilihlah Hatta Rajasa yang ketika itu menjadi Menteri Sekretaris Negara dan besan SBY.

“Saya kirimkan SMS ke nomor ponselnya, bahwa dua hari lagi, saya akan menahan Aulia Pohan. Karena berbicara seperti itu melalui pesan pendek, saya kemudian dipanggil ke kantor Mensesneg. Saat itu saya jelaskan jika Hatta menjadi mediator bagi kami dan meminta agar pesan SMS itu disampaikan ke SBY,” kata Antasari menjelaskan.

Begitu di hari penangkapan, tidak ada jawaban yang dia terima. Maka, Aulia Pohan langsung ditahan. Tak lama kemudian, Antasari dipanggil ke kantor Mensesneg.

Di sebuah ruangan telah duduk Hatta Rajasa dan Sudi Silalahi. Sudi bertanya mengapa Aulia Pohan yang notabene besan SBY ditahan.

“Saya jelaskan bahwa saya sudah memiliki komitmen dengan Pak Hatta sebelum ditahan, akan saya kabari. Ketika saya tanya ke Pak Hatta, ternyata dia lupa menyampaikan pesan itu kepada Pak SBY,” tutur dia.

Hatta kemudian diajak Antasari untuk menemui SBY agar bisa diberikan penjelasan yang mumpuni. Sayangnya, saat itu SBY sedang marah besar.

Lantaran beberapa kasus berskala besar tengah ditangani, Antasari berpikir dirinya sedang dijadikan sasaran untuk dikriminalisasikan.

Siap dikonfrontir




Dalam wawancara dalam program Prime Time, Metro TV itu, Antasari juga membantah adanya motif politik dengan sengaja membuka hal tersebut H-1 jelang Pilkada serentak. Dia mengaku sengaja mendatangi kantor Bareskrim Mabes Polri di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) karena bersama adik almarhum Nasruddin Zulkarnaen.

“Adiknya itu mengatakan lebih baik ke kantor polisi tanggal 14 Februari saja karena bertepatan dengan hari kematian kakaknya,” kata Antasari.

Grasi yang dikabulkan oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo sama sekali tidak bermotif politis. Sebab, grasi itu disampaikan, katanya, setelah meminta nasihat dari Mahkamah Agung.

“Jika dari Pak SBY, pengacara atau Pak Hary Tanoesudibjo menyebut ini adalah fitnah, mari kita buktikan saja siapa yang menyebar fitnah. Kita buktikan saja, undanglah kedua pihak itu, saya siap (dikofrontir),” kata Antasari.

Sejak diizinkan bebas bersyarat pada tanggal 10 November 2016, Antasari mengaku akan membongkar kasus yang sempat membelitnya. Sejak awal, dia sudah membantah membunuh Direktur PT Rajawali Banjaran, Nasruddin Zulkarnaen pada tahun 2008 lalu. Akankah Antasari akan membongkar kasusnya hingga tuntas?

Sementara, SBY akan menggelar jumpa pers pukul 21:00 WIB di kediamannya di kawasan Mega Kuningan untuk mengklarifikasi semua tuduhan yang dialamatkan oleh Antasari. - Rappler.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Semakin Terbongkar...!! Selain Sebut SBY, Antasari Juga Sebut Nama Ibas dan Hatta Rajasa"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.