Anies Sadarlah Bukan Anda yang Menang tapi Keluarga Soeharto yang Memetik Kemenangan




Beritaterheboh.com - Kehadiran calon Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara Dzikir dan Shalawat Bersama Mengenang 51 Tahun Supersemar, yang diselenggarakan di Masjid At Tin, Sabtu (11/3/2017) mengundang perhatian publik. Apalagi dalam acara yang diinsiasi oleh keluarga Cendana tersebut, Anies tampak sangat ‘mesra’ dengan putra bungsu Presiden RI ke-2 Tommy Soeharto.

Spekulasi beredar, keluarga Cendana sedang ‘memainkan’ perhelatan Pilkada DKI untuk kembali berkuasa. Dan Anies Baswedan sedang dijadikan kuda tunggangan trah Soeharto lewat Tommy Soeharto yang akhir-akhir secara perlahan tapi pasti ingin kembali ke pentas politik.

Sejak reformasi bergulir, keluarga Cendana dengan sengaja menarik diri dari dunia politik sambil menunggu moment yang tepat untuk kembali merebut kekuasaan. Karena itu, pakar komunikasi Universitas Indonesia Ade Armando berpendapat, Anies Baswedan bukanlah tokoh utama dalam Pilkada DKI. Anies sedang digunakan sebagai kuda tunggangan, sebagaimana pemuka agama seperti Arifin Ilham.

“Kalau Anies sampai menang, ini bukanlah kemenangan Anies tapi kemenangan kubu keluarga Soeharto, terutama Tommy Soeharto,” tulis Ade.

Lebih lanjut Ade menulis, Tommy kini telah menjelma menjadi tokoh politik yang memang menata langkah-langkahnya secara terencana untuk maju ke panggung politik. Dan dia akan kembali ke pangung politik untuk, antara lain, membalas dendam.,

Tommy adalah sosok fenomenal dalam politik Indonesia. Lahir 15 Juli 1962, Tommy bisa dibilang sebagai putra bungsu Soeharto yang sering membuat masalah, bukan hanya pada diri dan keluarganya, namun juga bangsa Indonesia.

Ia terbukti mendalangi pembunuhan, terbukti korupsi, menguasai projek yang memiskinkan rakyat, bergaya hidup mewah, dan digosipkan menjalin hubungan dengan banyak artis.

Dulu ia mungkin bisa dilihat sebagai ‘anak bawang’. Tapi kini ia sudah menjelma menjadi ‘raksasa’.

Manuver Tommy sebagai politisi sudah tercium sejak sekitar 2015. Saat itu, tiba-tiba saja muncul akun twitter Tommy Soeharto. Ia secara konstan menyerang Ahok, dan sesekali Jokowi.

Tommy yang semula dikenal sebagai pebisnis tiba-tiba saja fasih bicara politik, dengan visi kerakyatan.

Pada 2016, Tommy mengecam pernyataan Ahok yang meminta agar PLN tidak mengalirkan listrik di kawasan tanah negara yang didiami secara ilegal oleh warga yang menolak untuk direlokasi.

“Itu Otak Apa Tahu??..Memimpin jangan semau gue, jangan Asal Asbun, warga kurang mampu jangan terus di tekan, Anda itu siapa? Warga mana?”

Pada 2017, Tommy mulai secara terbuka bicara langsung pada wartawan untuk menyerang Ahok. Segera setelah putaran pertama Pilkada 2017, Tommy menyatakan bahwa hasil Pilkada menunjukkan adanya ancaman dari etnis Tionghoa terhadap demokrasi dan pribumi Indonesia. Tommy bahkan menyebut kaum etnis Tionghoa telah berkhianat pada bangsa Indonesia. 

Tommy membentuk dan menjadi ketua Partai Berkarya pada 2016. Tommy memilih untuk mengambil jalur partai baru karena menganggap Partai yang dulu dibentuk ayahnya, Golongan Karya, sudah tidak bisa lagi diharapkan. Partai berkarya dibrand sebagai partai yang menjadi ‘wadah kerinduan pada masa Pak Harto’.

Tommy juga diduga menyalurkan dana untuk membantu aksi-aksi Bela Islam pada November sampai Januari lalu. Tommy memang dekat dengan Firza Husein, wanita yang diduga memiliki hubungan gelap dengan Rizieq Shihab. Firza dalam hal ini adalah ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana. Melalui YSSC inilah diduga aliran dana dari Tommy mengalir ke gerakan-gerakan anti Ahok.

Manusia berbahaya

Tommy masuk penjara pada 2001 setelah terbukti menjadi dalang pembunuhan Ketua Muda Bidang Hukum Pidana Mahkamah Agung (MA), Syafiuddin Kartasasmita (60). Tim polisi yang menyelidiki dan menangkap Tommy ini adalah Tim Kobra yang dipimpin Kapolri saat ini, Tito Karnavian. Korban dibunuh diduga karena menjatuhkan vonis hukuman penjara 18 bulan penjara dan denda Rp 30 miliar kepada Tommy yang dianggap terbukti bersalah dalam kasus tukar guling PT Goro Batara Sakti (GBS) dan Bulog. Tommy kabur ketika hendak dipenjara. Tommy kemudian memerintahkan dua pembunuh bayaran menghabisi nyawa sang hakim. Berkat kerja keras Tim Kobra, Tommy kemudian tertangkap.

Tapi Tommy ternyata memperoleh banyak keistimewaan. Dua pembunuh bayaran yang dibayar Tommy dihukum penjara seumur hidup, sementara Tommy hanya divonis penjara 15 tahun. Bahkan kemudian Mahkamah Agung di bawah Bagir Manan memutuskan untuk mengurangi hukuman pada Tommy menjadi 10 tahun.

Tommy seharusnya baru keluar dari penjara tahun 2011. Namun berkat enam kali remisi yang diperolehnya, total hukuman yang harus dijalaninya hanya tujuh tahun. Lebih hebat lagi, Tommy bahkan sudah bisa keluar dari penjara pada 2006 dengan status bebas bersyarat.

Dengan kata lain, Tommy sebenarnya hanya menjalani hukuman di penjara selama lima tahun!
Tommy adalah anak emas Soeharto yang sejak muda terlibat dalam dunia bisnis. Tapi sama sekali tidak dengan reputasi harum.


Pada tahun 1980-an, ia diduga menggunakan tentara untuk memaksa sejumlah pemilih tanah di Nusa Dua serta Pantai Dreamland Bali untuk menjual tanah mereka dengan harga murah. Kabarnya sampai saat ini, tanah-tanah itu masih dalam dalam kekuasaan perusahaan-perusahaan Tommy. 

Di usia 22 tahun, Tommy sudah membangun kerajaan bisnis Grup Humpuss yang bergerak di bidang energi, batubara, petrokimia serta transportasi. Kerajaan ini ambruk begitu Orde Baru Tumbang.

Salah satu bentuk kejahatan Tommy di era Soeharto adalah ketika ia memperoleh hak monopoli menjual hasil cengkih dari petani, melalui Badan Penyangga Perniagaan Cengkeh (BPPC) yang dikendalikannya pada 1992. Sebelum BPPC dibentuk, petani cengkih bebas menjual langsung kepada pedagang melalui Koperasi Unit Desa (KUD). Sejak 1992, petani harus menjual cengkihnya kepada BPPC yang akan menangani penjualan kepada perusahaan-perusahaan rokok.

Banyak kepustakaan menunjukkan BPPC menjadi mesin keruk korupsi bagi Tommy dan kawan-kawan di BPPC. Dengan memanfaatkan posisi monopolinya, BPPC mengeruk keuntungan besar dengan mengabaikan kesejahteraan petani cengkih. BPPC membeli cengkih dari petani dengan harga murah dan menjualnya pada pabrik rokok dengan harga mahal. Selisih itu tidak disalurkan untuk membantu petani, melaiankan untuk memperkaya Tommy dan kawan-kawan.

BPPC bubar pada 1998, di tahun jatuhnya Soeharto, dengan meninggalkan kerugian negara yang diduga mencapai Rp 3 triliun.


Kerugian negara juga terjadi dalam progam mobil nasional yang ditangani Tommy, Timor. Dalam kasus ini, program yang seharusnya berorientasi pada produk mobil yang diproduksi di dalam negeri, malah menjadi sarana pengimpran built up mobil produksi KIA (Korea Selatan) tanpa dibebani bea masuk. Program ini duduga merugikan negara Rp 3,4 triliun.

Tommy juga kerap digambarkan sebagai ‘petualang cinta’. Ada banyak nama wanita yang dikabarkan menjalin hubungan cinta dengan Tommy. Media massa pernah memberitakan dia menjalin hubungan dengan nama-nama terkenal termasuk dari kalangan artis.

Istri resmi Tommy adalah Tata, yang memberinya dua anak. Pernikahan itu berakhir pada 2007, setelah Tommy lepas dari penjara. 

Tommy Soeharto kembali

Tidak ada yang tahu berapa kekayaan persis Tommy. Tapi yang pasti berlimpah. Tahun lalu, ia menyatakan siap membawa pulang aset-asetnya di luar negeri. Ketika itu secara terbuka, Tommy menyatakan ia memiliki banyak asset — saham, reksa dana, piutang, dan sebagainya – yang tersimpan di berbagai negara.

Masalah terbesarnya adalah, Tommy kembali dengan menyimpan dendam. Ayah yang sangat menyayanginya digulingkan, kerajaan bisnisnya ambruk, dan ia harus masuk penjara selama beberapa tahun. Tito Karnavian yang menangkapnya sekarang bahkan sudah diangkat menjadi Kapolri.

Anies Baswedan akan menjadi sosok yang menentukan sejarah Indonesia ke depan. Hanya saja ini bukan soal Anies, melainkan soal Tommy Soeharto, Cendana, Prabowo, Hari Tanu, Reza Chalid dan mafia hitam lainnya.

Anies, sadarlah. Anda sedang membuka pintu bagi kembalinya sejarah hitam Indonesia.

--- Simon Leya

(ade armando, indonesiasatu.co) 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Anies Sadarlah Bukan Anda yang Menang tapi Keluarga Soeharto yang Memetik Kemenangan"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.