Wajib Baca Biar Paham! Sebuah Opini dari Seorang WNI yang Ogah Disebut Pribumi

 



Beritaterheboh.com - Ratusan para pelaku unjuk rasa 313 menginap di hotel bintang 5 Kempinski. Hotel yang tarifnya sekitar 3 juta rupiah semalam. Sementara, tokoh penggerak unjuk rasa, Sekjen Forum Umat Islam ( FUI ) Al Khaththath ditangkap di lapangan lesehan dekat Masjid Istiqlal. 31 Maret 2017.

Kalau itu yang terjadi, barulah itu disebut sebagai suatu berita. Orang menggigit anjing itu berita. Kalau anjing menggigit orang itu sampah, bukan berita.

Sayangnya, secara faktual , Al Khaththath, yang di kampung kelahirannya dikenal bernama Gatot Saptono, yang 'nyaman dan kepenak' di Kempinski, waktu ditangkap polisi. 

Dan seputar " yang bukan berita " itulah yang sangat mengganggu saya sebenarnya. Saya hanya mau sampaikan, kepada orang2 yang mau melengserkan Ahok itu, cobalah lebih kreatif. Makin hari makin jadi cibiran masyarakat karena terus saja menyeret agama menjadi senjata, kok masih aja ngotot pake cara yg sama. 

Bro, atau panggil apa ya, Mas, Kak, saya infoin ya, cara2 itu, berduyun2 pake baju gamis, pake peci putih terus mengepal2kan tinju dan ber Allahu Akbar sembari teriak2 marah ... maaf ya ... saya bosan banget melihatnya. Dan saya yakin, banyak orang lain juga sudah 'neg' melihat itu. Apalagi ulah itu juga membuat lalu lintas Jakarta jadi makin macet dan menyusahkan. 



Pada saat sampeyan2 ber Allahu Akbar mengajak berkelahi itu, saya sesama Muslim, hanya bisa diam, sedih dan kadang menangis. Lha Islam yang mengajarkan kedamaian dan kesejukan kok sampeyan improvisasi jadi ajaran yang keras, kasar dan menakutkan ? 

Dan di sisi lain, saya membaca Anda sendiri juga mulai gak nyaman yaa. Paling tidak, ada sesuatu yang membuat label FPI Anda tinggalkan. GNPF MUI juga sampeyan lepaskan utk aksi itu. Sekarang pakai Forum Umat Islam ( FUI ). Tetap ada kata Islamnya ( saya membacanya : minta tolong dan menyusahkan agama ).

Ganti branding itu, bagi sampeyan mudah sekali ya. Yang penting, nampaknya, harus ada Kata Islam. Dan ini yang sangat menggnggu saya dan saudara2 Muslim lainnya yang berpandangan sama.


Sampe kapan untuk mengejar kuasa terus minta tolong dan menyusahkan agama ? 


Untuk memperkuat jurus yang mulai diemohin masyarakat banyak, sekarang sampeyan tambah lagi jurus, yang juga beraura sama, jurus kepepet. Anda sekarang gunakan isu pribumi dan non pribumi. Apalagi kalau ini juga bukan jurus kepepet ?

Wong ini juga sama-sama SARA nya bagi seluruh orang yang mengaku Warga Negara Indonesia. Sampeyan apa nggak berpikir, apakah orang seperti saya misalnya, karena saya kebetulan asli Jawa, Arema, seneng dipanggil sebagai pribumi ? Sampeyan salah besar. Saya ogah disamakan dengan suku asli atau pribumi Aborigin di Australia atau suku Indian di Amerika. Saya WNI, suku Jawa. Titik. Gak perlu tambahan keterangan PRIBUMI.

Dengan penggunaan jurus2 SARA ini, saya harus sampaikan, ini menunjukkan sampeyan itu kerdil. 

Sampeyan gak punya kekuatan untuk memenangkan kompetisi secara 'fairplay', tapi memaksa diri. Sampeyan jauh dari kemampuan sang petahana utk menggulirkan dan mewujudkan program2 penyejahteraan masyarakat DKI Jakarta. Lalu menggunakan jurus2 yang inkonstitusional, yang merusak semuanya. Membuat citra Islam jadi rusak. Membangun ketersinggungan para pemeluk agama2 lain. 

Sampeyan menghancurkan kredibilitas diri sendiri. Ringkas kata, kerusakan akibat jurus2 sampeyan ini sangat besar bagi perjalanan bangsa yang tengah ngotot mengejar ketertinggalannya thd bangsa2 lain di dunia.

Kalau masih mau ngotot ingin kompetisi, dengan tidak mempermalukan diri sendiri, cobalah untuk lebih kreatif.

Coba, misalnya, bikin sayembara terbuka ke masyarakat Indonesia ? Siapa punya resep jitu mengalahkan Ahok Jarot, akan mendapatkan hadiah 10 milyar, misalnya. Dengan catatan, dilarang memakai isu SARA. 

Atau misalnya yang lain, coba rekrut tim kampanye Donald Trump yg sukses menjungkalkan harapan masyarakat pro Hillary. Atau rekrut dan sewa tim Brexit, yang berhasil mengajak masyarakat Inggris keluar dari persaudaraan Eropa. 

Cobalah kreatif dikit. Seribu jalan ke Roma. Itu kalau sampeyan mau dan tahu. Kalau nggak tahu, coba cari di Waze. Kalau nggak ngerti juga, ya ngadem sajalah di rumah. Nonton tv atau main game. Aman damai.

Pongki Pamungkas

WNI Menolak Disebut Pribumi
Jakarta, 31 Maret 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wajib Baca Biar Paham! Sebuah Opini dari Seorang WNI yang Ogah Disebut Pribumi "

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.