"Sehari sebelumnya minta Diazab, Besoknya Jonru dianggap Keceplosan di ILC hingga Terancam Dipenjara, Inikah Karma?


Sehari sebelumnya minta Diazab, Besoknya Jonru dianggap Keceplosan di ILC hingga Terancam Dipenjara, Inikah Karma?


Jika benar terlibat jaringan Saracen, Jonru Ginting meminta Allah mengazab dirinya sepedih-pedihnya. Sebaliknya....

Di tengah usaha gencar pemerintah memerangi akun-akun penyebar kebencian, aktivis media sosial Jonru Ginting merasa dirinya dikait-kaitkan dan terlibat dalam jaringan Saracen.

Jaringan yang belum lama dibekuk polisi karena dugaan menyebarkan ujaran kebencian.

Namun Jonru Ginting membantah keras tuduhan tersebut.

Tak cukup membantah, ia bahkan berani meminta kepada Tuhan agar dirinya bisa segera mendapatkan azab kalau tuduhan itu benar adanya.

"YA ALLAH.... JIKA SAYA MEMANG TERLIBAT SARACEN, TOLONG AZAB SAYA DENGAN SEPEDIH-PEDIHNYA," tulisnya seperti TribunStyle.com kutip dari laman Facebook dia, Minggu (29/8/2017).

Sebaliknya, kalau tuduhan itu fitnah, Jonru minta azab diturunkan Tuhan pada mereka yang menuduhnya.

"DAN JIKA TERNYATA SAYA TIDAK TERLIBAT SARACEN, TOLONG BERIKAN AZAB YANG SEPEDIH-PEDIHNYA KEPADA MEREKA YANG MENUDUH SAYA TERLIBAT SARACEN.

TOLONG BAGI TEMAN-TEMAN YANG MASIH MENDUKUNG SAYA, AAMIINKAN DOA INI.

SAYA SANGAT SERIUS.

SAYA TAK AKAN BERANI BERSUMPAH SEPERTI INI JIKA SAYA MEMANG BERSALAH.

SAYA BERANI KARENA SAYA BENAR.

ALLAHU AKBAR !!!" tulisnya lagi.

Kalau Memang Menyebar Kebencian, Mengapa Situs Saracen Belum Ditutup? Ini Kata Menteri

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, Kementerian Komunikasi dan Informatika sengaja tidak memblokir situs Saracen karena berkaitan dengan kelanjutan penyidikan yang tengah dilakukan polisi.

“Sampai saat ini tidak diblok. Itu juga setelah koordinasi dengan Polri, karena yang mejadi bagian dari penyidikan lebih lanjut adalah situs Saracen, bukan hanya Facebook,” ujar Rudi pada acara Satu Meja yang ditayangkan Kompas TV, Senin (28/8/2017).

Saat ditanya terkait konten berita situs Saracen yang terlihat tak mengandung unsur SARA, Rudi menjawab justru hal itu yang tengah diselidiki polisi.

Namun, ia memastikan ada keterkaitan antara situs Saracen dengan penyebar konten bermuatan ujaran kebencian yang ditangkap polisi.

Rudi mengatakan, para pelaku jelas mengunggah konten yang melanggar beberapa pasal di Undang-Undang No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Tepatnya Pasal 27, 28, dan 29 terkait konten bermuatan SARA.

“Kalau dilihat dari sisi istilahnya keterkaitan satu sama lain antaraSaracennews.com dengan akun lain di Facebook itu berkaitan. Pada saat ini memang berkaitan dan satu sama lain tak bisa dilepaskan maka akan diambil tindakan,” lanjut Rudi.

Sebelumnya, polisi mengungkap keberadaan kelompok penebar ujaran kebencian dan hoaks beberapa waktu lalu, yakni kelompok Saracen.

Saracen mengunggah konten ujaran kebencian dan berbau SARA berdasarkan pesanan.

Tujuan mereka menyebarkan konten tersebut semata alasan ekonomi.

Media-media yang mereka miliki, baik akun Facebook maupun situs, akan mem-post berita atau konten yang tidak sesuai dengan kebenarannya, tergantung pesanan.

Para pelaku menyiapkan proposal untuk disebar kepada pihak pemesan.

Setiap proposal ditawarkan dengan harga puluhan juta rupiah. Hingga kini, masih didalami siapa saja yang memesan konten atau berita untuk diunggah di grup maupun situs Saracen.

Jonru Ngamuk 'Dijebak' Akbar Faizal soal Postingannya Terkait Orangtua Jokowi

Pegiat media sosial, Jon Riah Ukur Ginting atau yang karib disapa Jonru, ngamuk dalam acara Indonesia Lawyer's Club.

Peristiwa tersebut berawal saat Anggota Komisi III DPR-RI Akbar Faisal bertanya terkait unggahan Jonru tentang Presiden Joko Widodo.

Postingan Jonru di akun jejaring sosial Facebook-nya dibacakan Faisal di depan para peserta diskusi.

"Jokowi merupakan Presiden yang belum jelas siapa orangtuanya. Sungguh aneh, untuk jabatan sepenting presiden, begitu banyak orang yang percaya kepada orang yang asal muasalnya serba belum jelas," ujar Faizal membacakan postingan yang tertera di ponsel miliknya.

Setelah membacakan postingan tersebut, Akbar pun mulai bertanya ke Jonru.

"Saya mau bertanya. Apakah betul Anda pernah memposting ini?" ujar Akbar dalam acara yang ditayangkan pada Selasa (29/8/2017).

Lalu pertanyaan itu dijawab oleh Jonru.

"Iya benar pak," ujar Jonru yang malam itu mengenakan kemeja berwarna hitam.

Akbar menilai jawaban Jonru merupakan pengakuan dan memberikan kode kepada Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul yang hadir dalam diskusi itu.

"Monggo silakan pak polisi, ini adalah pengakuan," ujar Akbar.

Dia pun mengatakan bahwa tahu dengan jelas siapa ibunda Jokowi.

"Saya sedih karena kebetulan saya bagian dari tim inti Pak Jokowi pada saat itu dan ikut merancang pemerintahan ini. Saya tahu betul siapa ibunya Pak Jokowi. Saya mencoba untuk tidak marah. Saya tidak bayangkan bagaimana rasanya bila ibu saudara Jonru atau Pak Jokowi dihina seperti ini," ujar Akbar Faizal menahan amarah.

Namun Jonru membantah menghina dalam postingannya tersebut.

Dengan geragapan, Jonru mengelak dengan mengatakan postingan bukan 'hate speech.'

"Saya mengakui menulis (postingan) itu, tapi saya tidak menghina," ujar Jonru.

Dia tetap bersikukuh postingannya yang mengatakan asal muasal orangtua Jokowi tidak jelas bukanlah sebagai bentuk penghinaan.

Akbar pun meminta kepada polisi untuk memproses hukum Jonru.

"Saya minta kepada pak polisi, disaksikan seluruh orang Indonesia, tolong diproses manusia ini," ujar Akbar sambil menunjuk Jonru.

Kemudian, Jonru berteriak lantang.

"Saya tidak takut. Silakan diproses," ujar Jonru sambil mengacungkan tangan kirinya ke atas.

Berikut videonya, simak di menit ke 5.25:




(tribunnews.com via itusalah.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Sehari sebelumnya minta Diazab, Besoknya Jonru dianggap Keceplosan di ILC hingga Terancam Dipenjara, Inikah Karma?"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.