Terjawab Sudah, Inilah Sebabnya, 4 Anak Dita Supriyanto Rela Menjadi 'Pengantin' Bom


Beritaterheboh.com - Anak-anak pengebom bunuh diri yang beraksi di Surabaya tak disekolahkan oleh orang tuanya. Semasa orang tuanya hidup, anak-anak diberi doktrin paham teror.

"Ya hanya bapak-ibunya yang memberikan doktrin terus, dengan video-videonya, dengan ajaran-ajaran yang diberikan," kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Irjen Machfud Arifin, dalam jumpa pers di Markas Polda Jawa Timur, Jl Frontage Ahmad Yani, Surabaya, Selasa (15/5/2018).


Akhirnya para orang tua mengajak anak-anaknya melakukan aksi bom bunuh diri. Ada yang beraksi di tiga gereja dan ada pula yang beraksi di Markas Kepolisian Resor Kota Surabaya. 

"Bom ditaruh di pinggangnya, ini namanya anak di bawah umur," kata Machfud.



Ketika ditanya masyarakat, mereka biasa menjawab anaknya menjalani sekolah rumah (homeschooling), padahal itu bohong.

"Homeschooling kalau ditanya. Padahal nggak," kata Machfud.

Anak-anak korban paham radikal orang tuanya itu tidak diberi pendidikan yang layak, melainkan hanya diberi indoktrinasi oleh orang tuanya.

"Ya hanya bapak-ibunya yang memberikan doktrin terus, dengan video-videonya, dengan ajaran-ajaran yang diberikan," kata Machfud.


Nasib Jenazah Pelaku Bom Gereja di Surabaya yang Ditolak Warga

Banyak fakta tak terduga yang ditemukan tentang latar belakang para pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, keluarga Dita Oepriarto (47).

Dita dikenal sebagai sosok yang santun dan ramah, bahkan pernah menjabat sebagai ketua RT selama 10 tahun. Begitu pula dengan sang istri, Puji Kuswati (43) yang pernah menjadi ketua PKK di RT yang sama.

Salah satu tetangga Dita tak mengira pria yang berprofesi sebagai distributor obat herbal ini adalah pelaku bom bunuh diri. "Terakhir saya ketemu kemarin, pulang dari musala. Dan beliau selalu menyapa, setelah itu tak berbicara banyak. Tapi selalu menyapa," katanya. 

Cara berpakaian keluarga yang tinggal di Wonorejo Asri, Rungkut ini juga biasa saja. "Kalau istrinya jarang keluar, tapi tak mencurigakan. Nggak pakai cadar juga, yang sering keluar adalah dua anaknya yang perempuan, main sepeda keliling komplek," lanjut Unjung.

Sedangkan kedua anak laki-laki Dita selalu berboncengan menuju ke musala. Kelimanya dikenal rajin salat berjamaah di musala setempat.


Baik keluarga Dita maupun Puji pun syok dengan aksi yang mereka lakukan. "Kami sekeluarga syok, ibu dan bapak saya juga syok. Kami tak menyangka dia (Dita) melakukan itu," kata Dentri, adik Dita saat ditemui detikcom di rumahnya.

Sayangnya, Dentri enggan bercerita banyak terkait kepribadian kakaknya. Dia berdalih sudah lama tak bertemu dengan kakak kandungnya itu.

Hanya, dia mengaku kesal atas ulah Dita yang dengan tega mengajak keempat anaknya melakukan aksi bom bunuh diri. Ditambah lagi, kini ketenangan keluarganya terganggu setelah menjadi sorotan banyak pihak terkait aksi Dita.

"Otak dia ditaruh mana, kok tega ngajak anak melakukan itu," tuturnya.

Bahkan keluarga Puji tak bisa ditemui. Yang ada hanya perwakilan keluarga yang memberikan keterangan didampingi Kepala Desa Tembokrejo.

Mendengar kabar Puji Kuswati, sebagai pelaku terorisme bom bunuh diri, pihak keluarga langsung syok. "Semua masih syok, mereka baru tahu dari siaran berita tadi malam," ungkap Rusiono, perwakilan keluarga.

Keluarga tidak pernah menduga nasib Puji Kuswati, beserta anak-anaknya, berakhir tragis.


Keluarga makin prihatin karena mobil Toyota Avanza yang digunakan Dita untuk melakukan serangan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna, dibeli di Banyuwangi. 

"Ini mungkin mobil yang ketiga yang diberikan ke Puji. Dua mobil sebelumnya dijual. Tidak jelas karena apa dijual," kata Rusiono.

Kemudian, keluarga di Banyuwangi kembali membelikan mobil, tanpa diberikan BPKB. Mobil ini yang diduga digunakan untuk meledakkan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS).

"Keluarga kecewa, karena dua kali dibelikan mobil, lalu dijual dengan alasan yang kurang jelas. Akhirnya, dibelikan lagi, tapi tidak diberi BPKB. Mobil itu yang diduga dipakai pelaku," tambahnya.

Meski sejak kecil diasuh saudara orangtuanya di Magetan, kata Rusiono, keluarga di Banyuwangi selalu peduli dengan keluarga Puji Kuswati. Bahkan, pelaku sempat dibelikan rumah seharga Rp 600 juta di Surabaya. "Semua untuk kepentingan keluarga Puji. Sempat juga memberi kabar jika akan menjual rumahnya, katanya tidak jelas," tambahnya.


Setelah jenazah Dita dan keluarganya dievakuasi, rencananya mereka akan dimakamkan di TPU Tembok Gede, Jalan Tembok, Gang Kuburan, Tembok Dukuh. Pemakaman ini letaknya tak jauh dari rumah orang tua Dita. 

Namun sebagian warga menolak jika jenazah Dita dimakamkan di wilayah mereka. "Saya hanya dengar bisik-bisik, ada warga yang tak mau Pak Dita dimakamkan di sini," ungkap Ketua RT 8 RW 1 Abdul Hamid.

Warga RW 1 Kelurahan Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya pun menggelar rapat untuk membahas rencana pemakaman Dita. 


Warga di lingkungan rumah orang tua Puji di Banyuwangi juga menolak menerima jenazah wanita ini. Mereka beralasan Puji bukan warga desa setempat.

"Puji bukan warga Banyuwangi. Ya, seharusnya ikut dengan suaminya di Surabaya untuk dimakamkan," jelas Rusiono

Tak hanya itu, keluarga Puji sendiri pun tak berharap jenazah pelaku dan kedua anaknya itu dimakamkan di Banyuwangi. Meskipun punya hubungan darah, kata Rusiyoni, pelaku tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga. Sebab, puji sudah lama berpisah lantaran diasuh oleh saudaranya. Ditambah lagi keluarga sebelumnya tidak merestui hubungan dengan sang suami, Dita Oeprianto.

"Alasan lain, keluarga sebelumnya tak menerima perbedaan prinsip dan pandangan mengenai aliran yang dianut," ungkapnya. (detik.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Terjawab Sudah, Inilah Sebabnya, 4 Anak Dita Supriyanto Rela Menjadi 'Pengantin' Bom"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.