Beritaterheboh.com - YANRI (46), orang tua George Ernest Suhardi menceritakan kronologis tewasnya putra bungsunya saat berwisata di Bali.

Siswa kelas XI Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat, itu tewas karena terpeleset saat menuruni tebing Pantai Balangan, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali, pada Jumat (29/6/2018) pukul 17.45 WITA.

Ernest bersama keluarganya yakni ayah, ibu dan kakak perempuannya berangkat dari Jakarta ke Bali untuk berwisata pada Kamis (28/6/2018).

Mereka mendarat di Bandara Ngurai Rai, Denpasar, Bali sekitar pukul 18.15 WITA.

Malam itu, keluarga tersebut melewati malam pertama mereka di Bali hanya dengan beristirahat di sebuah hotel yang terletak di daerah Uluwatu.

Keesokan harinya, Jumat (29/6/2018) siang pukul 12.00 WITA, Ernest dan keluarganya berencana pindah ke hotel yang telah dipesannya saat berada di Jakarta.

Namun, sebelum itu, mereka menyempatkan untuk makan siang terlebih dahulu.

"Udah kita kepanasan makan es. Habis itu kita makan siang menjelang sore selesai makan jam 16.00 WITA. Habis itu kita Maksudnya mau check in di hotel kedua kan. Terus Ernes minta, dia senang foto kan, karena emang udah bawa perlengkapan kamera. Terus Kamis searching di Google foto sunset yang bagus di Bali lokasinya. Saya yang pilih-pilih. Keputusannya kita ke pantai Balangan Jimbaran karena Hotel ke-dua kalau dilihat dari Google Maps ini agak dekat nih," tutur Yanri.

Menurutnya, spot foto yang bagus di Pantai Balangan berada di tebing, yakni pada bagian atas dan agak ke bawah.

Namun, keluarga tersebut memilih spot foto yang berada di bagian atas tebing Pantai Balangan. Ernest bersama ayahnya, sedangkan kakak perempuannya menemani sang ibu.

Menurutnya, lebar akses turun-naik tebing tersebut cukup untuk enam sampai tujuh orang.

Insiden terpelesetnya Ernest bermula saat ia mencoba untuk menuju ke turunan itu menyusul ayahnya yang sudah turun duluan.

"Papanya sudah turun duluan, Ernest turun, jadi mau ambil spot foto. Menurut papanya, kakinya sudah turun satu dan dua, kita kan turun gitu nggak mungkin kita dengan posisi berdiri pasti agak duduk," ucap Yanri.


Saat menuruni tebing, Ernest kehilangan keseimbangan.

Ayahnya yang saat itu berada di dekatnya melihat putra bungsunya terjatuh seperti terdorong, meskipun saat itu tidak ada yang mendorong anaknya.

Walau berada tidak jauh dari posisi Ernest, ayahnya tidak sempat meraih tubuh sang anak, hingga akhirnya jatuh ke pantai.


Dari situ lah, Yanri membantah dugaan polisi yang menyebut Ernest terjatuh saat sedang berfoto selfie.

Bahkan, saat kejadian, Ernest belum sempat mengeluarkan kamera dari dalam tasnya.

"Bukan (selfie). Mau moto. Itu pun kamera masih ada di dalam tas, belum dikeluarin. Jadi waktu dia di atas itu, kan kita kalau mau moto kan suka ngeker pakai tangan kira-kira bagus nggak. Dia belum keluarin kamera jadi masih di dalam tas," ucap Yanri.


Setelah terjatuh dan mendapatkan pertolongan dari pengunjung Pantai Balangan, kondisi Ernest masih dalam keadaan hidup namun kritis.


Ia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Bali Jimbaran.

Saat tiba di rumah sakit, Ernest sudah dalam keadaan meninggal dunia sekitar pukul 19.05 WITA.

Jenazahnya kemudian diterbangkan ke Jakarta dan disemayamkan di rumah duka Grand Heaven, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Hingga Minggu (1/7/2018) malam, ratusan orang datang, yang terdiri dari kerabat dan teman-teman Ernest hingga rekan kerja orang tuanya silih berganti datang melayat dan mengikuti Misa.

Rencananya jenazah Ernest akan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, pada Selasa (3/7/2018).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " "

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.