Ojol Keberatan Kalau Jalan Tomang Raya Ada Jalur Sepeda, Ini Alasannya

Beritaterheboh.com - Pengendara motor ramai-ramai melenggang bebas di jalur sepeda Jalan Tomang Raya, Jakarta Barat. Umumnya mereka mengaku tidak tahu terkait fungsi jalur tersebut.

Misalnya saja Chandra (26) pengemudi ojek online alias ojol yang melintas di Jalan Tomang Raya arah Slipi.

"Lihat sih ada garis putih, tapi saya gak tahu itu apaan, saya kira untuk pembatas jalan doang," kata Chandra saat ditemui Wartakotalive.com Selasa (29/10/2019) di pinggir Jalan Raya Tomang.


Chandra menolak adanya jalur sepeda di kawasan tersebut. Ia pesimis jalur tersebut akan steril dari pengendara motor ataupun mobil.

"Gak ada jalur sepeda aja sudah macet apalagi tambah ada jalur sepeda tambah macet lagi. Jadi saya kira ini kurang kerjaan," kata Chandra.

Selain Chandra, pengemudi ojek online lainnya Diki (24) juga mengaku kerap melewati jalur bergaris putih itu.

Diki mengaku sudah mengetahui marka garis putih tersebut merupakan jalur yang diperuntukan untuk sepeda.

Namun menurutnya ia tidak memiliki pilihan lain selain melewati jalur tersebut.

"Jadi kurang efektif sih kalau disini, karena ini jalur cuma cukup dua mobil, jadi kalau dipakai lagi buat jalur sepeda malah makin sempit," jelas Diki.

Imbasnya, kata Diki, jika jalur tersebut benar-benar tidak boleh dikendarai jenis kendaraan bermesin malah akan menimbulkan kecelakaan di jalur lain.

"Soalnya kan tahu sendiri, ini jalur sibuk, macet, jalur mobil keluar masuk tol, gak ada jalur sepeda saja sudah macet luar biasa Tomang, " kata Diki.

Pantauan Wartakotalive.com pukul 17.00 WIB, Jalan Tomang Raya mulai dipenuhi kendaraan.

Arah Slipi, dua jalur digunakan untuk kendaraan mobil, satu jalur untuk transjakarta dan satu jalur untuk sepeda.


Akibatnya, pengendara motor kerap berjalan di pinggir yang sudah dimarkai untuk jalur sepeda.

Meski sudah ada 3 jalur untuk kendaraan umum, kondisi Jalan Tomang Raya pun masih padat. Rata-rata jalan dipenuhi dengan mobil yang akan masuk ke jalur tol.

Diberitakan Wartakotalive.com sebelumnya Pelaksana Tugas (Plt) Kasi Operasional Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat Afandi mengatakan pihaknya berencana melakukan penjagaan di titik-titik jalur sepeda.

"Nanti kami adakan penjagaan jalur sepeda di tempat bermasalah, seperti persimpangan, agar pengendara lain tidak masuk ke jalur tersebut," kata Afandi saat dihubungi Selasa (29/10/2019).

Afandi mengakui, jalur tersebut kerap ditemui pengendara yang tidak berhak seperti menjadi pemberhentian ojek online.

"Jadi nanti agar jalur sepeda tidak tertutup akan diadakan personil untuk melakukan penjagaan, hal ini untuk mencegah jalur sepeda tertutup oleh pengendara lain," kata Afandi.

Rencananya jelas Afandi, penjagaan akan dimulai awal November tahun ini setelah fase 3 teralisasi.

Kata Afandi, harapannya dengan adanya penjagaan tersebut jalur sepeda bisa bebas dari hambatan pengendara lain.

"Jadi pengendara sepeda bisa terintegrasi dengan transjakarta, MRT dan LRT," kata Afandi.

Sehingga diharapkan semakin banyak pekerja yang memilih untuk bike to work.


Anggaran Jalur Sepeda

Diberitakan Wartakotalive.com Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengusulkan anggaran pembuatan jalur sepeda pada tahun 2020 sebesar Rp 69,27 miliar.

Usulan anggaran itu disampaikan saat Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020 antara Dinas Perhubungan dengan Komisi B DPRD DKI Jakarta.

Adapun rapat itu digelar di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

“Pemeliharaan prasarana rekayasa lalu lintas di koridor busway dari Rp 4,49 miliar menjadi Rp 69,27 miliar. Ini adalah untuk pembangunan jalur sepeda,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo pada Senin (28/10/2019).

Syafrin mengatakan, pembangunan jalur sepeda tidak dilihat sebagai sesuatu hal yang mengurangi kapasitas jalan.

Tetapi harus dilihat dari satu kesatuan dalam konteks penataan angkutan umum secara masif di Jakarta.

“Karena begitu kami membangun infrastruktur transportasi tanpa menyelesaikan persoalan mayor, maka yang terjadi adalah ada infrastruktur transportasi angkutan umum, tetapi penumpangnya tidak,” ujar Syafrin.

Dia mencontohkan, transportasi Transjakarta. Kapasitas angkutan massal itu sebenarnya adalah 2 juta penumpang per hari. Tapi sampai saat ini jumlah penumpangnya baru mencapai 937.000 per orang.

“Oleh sebab itu penyelesaiannya tidak hanya di dalam pembangunan infrastruktur berupa penyediaan sarana, tetapi juga harus dari awal orang yang akan menuju ke stasiun maupun halte itu harus kami fasilitasi,” ungkapnya.


Syafrin meyakini dengan pola ini bisa mengubah paradigma masyarakat dalam bertransportasi.

Mereka tidak lagi berpergian menggunakan kendaraan bermotor, karena pemerintah menyiapkan mobilitasnya berupa jalur sepeda.

“Karena itu pembangunan jalur sepeda ini menjadi penting karena sebagai jalur, kami juga mendorong penyediaan parkir sepeda dan saat ini seluruh terminal bus sudah ada jalur sepeda dan masyarakat sudah memanfaatkan fasilitas ini untuk sehari-hari,” katanya. 



Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Ojol Keberatan Kalau Jalan Tomang Raya Ada Jalur Sepeda, Sebut Jalan Sudah Sempit

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ojol Keberatan Kalau Jalan Tomang Raya Ada Jalur Sepeda, Ini Alasannya"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.