Tamparan bagi Anies! Di Solo Disoraki, Kehadiran Anies di Kanisius Jakarta Diprotes. Salut untuk Pidatonya Ananda Sukarlan

 

Beritaterheboh.com - Ini adalah tamparan bagi Anies Baswedan. Dia harusnya mencatat bahwa warga Jakarta menstempel dirinya dengan berbagai macam julukan yang sangat tidak nyaman untuk dibawa kemanapun dia berada.

Di Solo, Anies Baswedan disorakin. Dan kemaren di acara 90 tahun Kolese Kanisius Jakarta, dia diprotes. Dan semua itu bukan karena tanpa alasan. Semua orang tahu dan paham mengapa Anies Baswedan diperlakukan demikian.

Aksi walk out yang dilakukan oleh beberapa alumni Kolese Kanisius pada acara penyerahan Penghargaan Kanisius terjadi ketika Gubernur Baru Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan pidato sambutannya. Dan mereka kembali ke ruangan ketika pidato usai disampaikan. Namun yang lebih mengejutkan adalah serangkaian kalimat yang diucapkan oleh Ananda Sukarlan, seorang komponis dan pianis yang menyatakan ketidak-setujuannya atas hadirnya Anies Baswedan ditengah-tengah para undangan.

Untuk saya pribadi, sangatlah mengejutkan ketika Anies Baswedan memutuskan untuk menghadiri acara sekolah yang dipandang sebagai sekolah kafir oleh 58% warga Jakarta. Anies Baswedan yang menjadi Gubernur karena alasan kesamaan iman atau agama oleh 58% pemilihnya, harusnya menolak untuk datang walaupun dia diundang.

Dan pidato Ananda Sukarlan memang mengejutkan, tapi saya masih melihat bahwa Ananda Sukarlan masih memegang nilai-nilai kesopanan dengan menyampaikan kalimat tersebut ketika Anies Baswedan sudah meninggalkan ruangan. Kalimat yang disampaikan juga tidak ada yang salah. Ananda Sukarlan mempunyi hak sebagai warga negara untuk menyuarakan hatinya di media yang sudah tepat. Dan ini kalimat yang dia sampaikan:



“Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan pada kami. Walaupun anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya. Ia mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius. Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nila kemanusiaan.”


Kemudian setelah itu, banyak alumnus lain yang menyalami Ananda Sukarlan atas pidato yang dia sampaikan.

Lalu kenapa banyak orang menyalahkan pidatonya dia? Apa yang dikatakannya adalah fakta bahwa Anies Baswedan mendapatkan jabatan gubernurnya dengan cara-cara yang tidak wajar, menjual agama menggunakan ayat dan mayat dan selama kampanye dan debat, apa yang Anies lakukan bukan mengedepankan program tapi memprovokasi warga untuk membenci sang petahana.

Kalau kita orang berakal, pasti hati nurani kita akan langsung menolak seseorang yang berperilaku seperti Anies Baswedan.

Kenyataan bahwa Anies Baswedan memenangkan Pilkada karena menggunakan Surat Al Maidah 51 adalah fakta. Karena partai yang mendukung dia, sekarang terbukti mengusung seorang non-muslim untuk pemilihan kepala daerah di daerah lain. Kalau mereka orang-orang yang konsisten dan berpegang pada agama yang diyakininya, seharusnya hukum yang mereka yakini di dalam Surat Al Maidah 51 tidak hanya diterapkan di Pilkada Jakarta.

Dan orang yang berakal akan lebih memikirkan masa depan dari anak dan cucunya. 

Menginginkan kemajuan dan kemudahan, bukan membesarkan kebencian dan rasisme, sampai kemudian kehilangan akal sehat dan memilih seorang pemimpin hanya dengan alasan satu iman, namun piawai menciptakan kebohongan. Apa sang Gubernur harus menciptakan program KJS alias Kartu Jakarta Sabar?

Mungkin Jakarta akan lebih baik, tegas, berwibawa dan cerdas kalau makin banyak orang seperti Ananda Sukarlan yang dengan berani menyuarakan ketidak-setujuannya.

Karena apa yang sudah warga Jakarta tetapkan adalah satu spekulasi tinggi yang mempertaruhkan kehidupan satu generasi berikutnya. Mereka yang menentukan, mereka pula yang harus memutuskan. Ke-error-an Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta adalah mutlak urusan internal Jakarta sendiri. Bukan pemerintah pusat atau Mendagri apalagi menjadi urusan Presiden Jokowi. Dan rakyat diseluruh Indonesia akan dengan senang hati menjadi saksi atas keberanian dan kewarasan warga Jakarta.

Atau kalau maupun, seharusnya partai yang mengusung dia bertanggung jawab karena mereka telah membawa kekacauan di Jakarta.
 

Artinya, ini seharusnya menjadi catatan bagi rakyat Indonesia bahwa memilih pemimpin yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi adalah utama. Bukan karena kesamaan iman dan agama. Karena kita sudah melihat dan mempunyai contoh yang nyata bahwa pemimpin yang memiliki kesamaan agama tapi tidak memiliki tanggung jawab jabatan, sama dengan pajangan. 


Masih mending pajangan, masih enak dipandang dan bisa dijual kalau pas kita lagi butuh uang. Coba Anies Baswedan? Sudah jelas dari jabatan menteri pendidikan diberhentikan eh malah dipungut jadi Gubernur Jakarta.(indovoices.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tamparan bagi Anies! Di Solo Disoraki, Kehadiran Anies di Kanisius Jakarta Diprotes. Salut untuk Pidatonya Ananda Sukarlan"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.