Blak-blakan! Ini Pengakuan Ibu yang Jual Anak Kandung Rp 20 Juta untuk Beli Sabu


Beritaterheboh.com -  Polisi mengungkap kasus penjualan bayi berusia 2,5 tahun di Palembang, Sumatera Selatan. Ibu kandung korban, Fatima alias Yanti (42) ditetapkan polisi sebagai tersangka.

Fatima yang merupakan warga 13 Ilir Kota Palembang nekat menjual darah dagingnya sendiri seharga Rp 20 juta. Mirisnya, uang hasil penjualan putrinya tersebut habis digunakan untuk membeli narkotika jenis sabu.

Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Yon Edi Winara membenarkan pelaku dan pihak yang membeli bayi tersebut telah ditangkap. Fatimah ditangkap setelah dilaporkan oleh suaminya, Junaidi (44) karena dicurigai menjual anak kandungnya dan sempat menghilang akhir Desember lalu.

Sedangkan si pembeli berinisial MS, ditangkap di Serang, Banten pada Sabtu (13/1) sore. MS belum ditetapkan sebagai tersangka karena masih dalam pemeriksaan.

"Ibu kandung korban itu sebagai pelaku utama yang menjual, jadi bayi dihargai Rp 20 juta dan uang digunakan untuk nyabu. Kami menetapkan tersangka baru ibu kandung korban selaku penjual dan pembeli belum karena masih dalam tahap pengembangan," kata Yon Edi kepada detikcom, Rabu (17/1/2017).

Dikatakan Yon, usai mengendus keberadaan MS di Serang, Banten, polisi akhirnya menemukan bayi AAS di rumah sederhana tersebut. Dari hasil pemeriksaan sementara, MS mengaku membeli bayi AAS untuk di adopsi sendiri karena mereka tidak memiliki anak.

Bahkan, MS menyebut bayi tersebut terlantar dan tidak ada orang tua yang merawatnya. Sehingga, MS dengan senang hati membeli dengan harga Rp 20 juta untuk diadopsi sebelum nantinya membuat surat-surat pengangkatan anak.

Sementara uang Rp 20 juta yang disepakati antara MS dan Fatimah adalah sebagai ganti biaya persalinan. Dimana Fatimah mengaku sudah tidak memiliki suami dan tidak sanggup menghidupi bayinya.

"Untuk pembeli belum kita tetapkan tersangka karena dia mengaku kena tipu daya juga oleh ibu kandung korban dan belum ada terindikasi adanya sindikat perdagangan anak. Mereka murni ingin mengadopsi, tapi ini akan terus kita kembangkan kasusnya," sambung Yon.

Bayi AAS yang sudah ditemukan langsung diserahkan pada pihak keluarga kandungnya untuk dirawat. Sedangkan ibu kandung korban telah ditahan di Mapolresta Palembang.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 76 f juncto Pasal 83 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 

Ini Pengakuan Ibu yang Jual Anak Kandung Rp 20 Juta untuk Beli Sabu

Saat ditemui di Mapolresta Palembang, Fatima mengaku penjualan putri kandungnya terjadi pada awal Desember tahun lalu. Saat itu dia mendapat informasi dari tetangganya, Ahmad Sopiyandi, Wawan Wahyuni, dan Ayu Viola alias Butet, bahwa ada sepasang suami-istri di Pulau Jawa yang ingin mengadopsi anak.

Merasa terbebani oleh keberadaan putri kelimanya ini dan takut tidak sanggup memberi nafkah, Fatima kemudian membawa putrinya dari rumah. Dengan kondisi sadar, Fatima menghubungi ketiga tetangganya dan seorang lelaki yang akan membeli anaknya, Jaka.

"Saya sebelumnya tidak kenal sama Jaka, orang yang mau beli anak saya ini, tetapi tetangga saya bilang agar saya minta uang Rp 20 juta dengan alasan untuk mengganti biaya sesar saat melahirkan. Nah, saat itulah saya bawa anak saya ke daerah Pusri untuk saya jual dan terima uang," kata Fatima kepada detikcom, Kamis (18/1/2018).

Tanpa menunjukkan raut wajah penyesalan, Fatima melanjutkan perbincangan dan menyebutkan memang tidak menyesal telah menjual anak kelimanya ini. Alasan ekonomi disebut merupakan salah satu alasan dirinya mengambil keputusan menjual putrinya.

Yang lebih memprihatinkan, setelah menjual putri yang masih membutuhkan ASI darinya, Fatima malah tidak pulang ke rumah. Fatima memilih tinggal di salah satu rumah teman dan menghabiskan seluruh uang hasil penjualan darah dagingnya sendiri untuk hura-hura dan membeli sabu.

Setelah uang tersebut habis, Fatima kembali ke rumah dan menemui suaminya, Junaidi (34), dengan alasan anaknya hilang. Tidak percaya begitu saja, Junaidi akhirnya melaporkan Fatima ke Polresta Palembang pada 7 Januari lalu.

"Saya takut mau pulang ke rumah. Uang semua saya habiskan untuk jalan-jalan dan beli barang-barang saat tinggal tempat teman selama 1 bulan. Pas uangnya habis, saya pulang dan bilang kepada suami kalau anak kami hilang, tapi suami saya langsung curiga dan melaporkan saya ke polisi," sambung wanita pemilik tato love di tangan kirinya ini.

Karena terdesak, dia pun mengakui putrinya telah dijual seharga Rp 20 juta kepada Jaka dan dibawa ke Serang, Banten. Meskipun telah memiliki nomor kontak sang pembeli, Fatima mengaku tak pernah menghubungi Jaka untuk menanyakan kabar putrinya.

"Nggak pernah saya hubungi, karena sudah saya jual ya itu jadi tanggung jawab yang beli. Tapi saya simpan kontaknya untuk menanyakan kabar nantinya kalau anak saya sudah besar dan kalau dia sakit," sambungnya lagi.

Sementara itu, Kapolresta Palembang Kombes Wahyu Bintono HB mengatakan kasus jual-beli anak ini terungkap setelah Junaiadi melaporkan telah kehilangan istri dan anaknya sendiri.

"Awalnya itu suami tersangka melaporkan telah kehilangan anak dan istrinya, selama 1 bulan tidak pulang. Dari laporan tersebut, kita melakukan penyelidikan dan diketahui istrinya kembali ke rumah sendiri, tetapi tidak dengan putrinya," sambung Wahyu.

Setelah dilakukan pendalaman, diketahui ternyata putrinya tersebut memang dijual kepada orang lain. Dari situ kemudian polisi menelusuri kediaman pembeli anak yang berada di wilayah Serang, Banten, dan berhasil mengamankan pembeli beserta anaknya.

"Dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka diketahui bukan jaringan jual-beli anak. Tetapi seluruh uang tersebut telah dihabiskan untuk membeli pakaian dan juga narkotika jenis sabu," sambung Wahyu.

Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat Pasal 76 F juncto Pasal 83 UU Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara. Sedangkan putri malang yang dijual oleh ibu kandungnya ini telah diserahkan kepada pihak keluarga. (detik.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Blak-blakan! Ini Pengakuan Ibu yang Jual Anak Kandung Rp 20 Juta untuk Beli Sabu"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.