Patahkan Tuduhan Kecurangan, Ada TPS Siluman yang Menang Prabowo-Sandi


Beritaterheboh.com - Kenaikan angka itu yang diduga dijadikan alasan oleh BPN untuk menyimpulkan kalau di Jawa Timur terjadi penggelembungan suara.

Menurut Arya, penjelasan dalan materi presentasi itu salah.

Sebab BPN tidak memperhatikan tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.

"Semua kan mengakui tingkat partisipasi pilpres ini sangat tinggi. Dulu waktu Pilkada Jatim, partisipasinya 20 juta orang, sekarang 24 juta orang. Coba cek datanya," ujar Arya.

Arya Sinulingga mengatakan kalau fenomena kenaikan suara itu bukan karena penggelembungan suara, melainkan pengaruh dari tingkat partisipasi masyarakat untuk mengikuti Pemilu 2019.

"Jadi wajar saja kalau suara sah juga naik karena tingkat partisipasi tinggi. Ini bukan penggelembungan suara," kata dia.

a tidak tahu apakah BPN sengaja menyebarkan pemahaman yang salah kepada pendukung Prabowo-Sandiaga.

Namun, menurut dia, ini adalah bentuk kebohongan terhadap rakyat. Arya juga menyayangkan sikap BPN yang tebang pilih.

Jika mengikuti logika BPN soal penggelembungan suara, kata Arya, seharusnya Medan juga disebut.

Dia mengatakan tingkat partisipasi masyarakat Medan saat pilkada hanya 26 persen, sedangkan saat pilpres mencapai 80 persen.

Tetapi BPN tidak bilang itu penggelembungan suara. Itu mereka tidak mempermasalahkan. Mereka abaikan karena mereka yang menang di sana," kata Arya.

Selain di Jawa Timur, Arya Sinulingga juga mengungkapkan keanehan data milik BPN.

yang berada di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Arya Sinulinggap un menunjukan foto berisi materi presentasi kecurangan pemilu milik BPN, yakni foto TPS 13 yang dianggap berisi daftar pemilih tetap ( DPT) siluman.

BPN menilai TPS ini diisi oleh pemilih siluman karena beberapa pemilih dalam DPT di sana memiliki tanggal lahir yang sama.


"Yang lucu ini kasus DPT. Mereka mengatakan bahwa tanggal lahirnya sama semua. Tetapi NIK-nya sama tidak? Ini beda-beda," ujar Arya Sinulingga.

Arya mengatakan, biasanya kombinasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) menggunakan tanggal lahir dan tahun kelahiran juga.

Dalam materi presentasi yang disiapkan BPN, susunan NIK pemilih yang tanggal lahirnya disebut sama itu berbeda-beda.

Arya pun jadi meragukan data kecurangan BPN ini. Selain itu, kata Arya, TKN sudah memeriksa hasil penghitungan suara di TPS tersebut melalui situs Situng Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Lucunya, ternyata di TPS tersebut yang menang adalah 02. Jadi yang siluman siapa? Kalau ini mengada-ada, kok menguntungkan 02?" ujar Arya.(Tribunnews.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Patahkan Tuduhan Kecurangan, Ada TPS Siluman yang Menang Prabowo-Sandi"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.