Hebat! Begini Cerita 'Gurita' Bisnis Makanan Gibran dan Tempat Kursus Gratis dengan 1000 Siswa

 



Beritaterheboh.com - Nama Gibran Rakabuming Rakabuming Raka dikenal pertama kali sebagai anak dari Presiden Joko Widodo. Publik kemudian mengenalnya sebagai seorang wirausaha muda yang menjalankan bisnis katering dan waralaba martabak. 
 
Meminjam istilah George Junus Aditjondro, Gibran kemudian mengembangkan 'gurita' bisnis makanannya tersebut ke luar Solo, tempat dia berasal, merambah Ibukota Jakarta. 

Ia bahkan juga memperluas bisnis makanannya dengan menambah koleksi jualannya, salah satunya ceker ayam dan warung kopi.
 
Dalam menjalankan usahanya, Gibran tak sendiri, ia dibantu oleh adiknya, Kaesang Pangarep. Kendati dicibir, namun Gibran tak patah arang. Dia bahkan berniat memperluas usahanya hingga ke luar negeri.

Seperti apa Gibran membangun bisnisnya, dari Solo hingga Jakarta? Dan apa reaksinya saat martabaknya disebut 'kampungan' di media sosial? 

Gibran mengungkapnya pada sesi wawancara khusus dengan Rappler, 14 Januari 2016.
Simak wawancara kami selengkapnya: 

Sejak kapan Mas Gibran tertarik ingin membuka usaha sendiri?

Ini sih mulainya dari gedungnya sendiri sudah berjalan 15 tahun dan saat itu berjalan tanpa katering. Saya melihat itu sebenarnya kerugian untuk sebuah gedung karena enggak punya katering sendiri. Padahal setiap orang menikah itu kan biaya terbesarnya itu justru ada di makanan. Makanya waktu saya pulang ke Solo, saya bikin katering.

Dua tahun berjalan, saya tambahin fasilitas lain, seperti rias pengantin, baju pengantin, mobil pengantin, souvenir undangan, dan segala macam.

Waktu pertama kali memulai usaha bagaimana cara mengumpulkan modal, sumber daya manusia, dan peralatannya?

Dari nol sih, kalau kateringnya sendiri dari 2010 itu memang, mulai dulu dari pesanan kecil. Setiap tahun kami menambah volume pesanan.

Dan ini sudah merambah selain Solo?

Kita memang fokusnya di Solo untuk pernikahan, biasanya dalam satu bulan itu ada tiga di luar kota.

Apa saja yang ditawarkan di sini selain paket pernikahan?

Banyak. Jadi semua fasilitas pendukung ya, jadi kita ada katering, ada aktivitas pendamping, ada souvenir, undangan, dan sebagainya.

Selain usaha katering, ada usaha lainnya kah?

Kalau yang lagi terkenal itu martabak 8 rasa Markobar itu, itu sudah ada di Solo, Yogjakarta, Semarang, dan Jakarta.

Semuanya makanan?

Iya, semuanya makanan.

Selain Markobar?

Ada cakar, namanya Cakar Der. Itu kaki ayam kita bakar, kami kasih sambal. Ada di Solo dan Jogja. Ada kopi juga, kalau kopinya saya jadiin satu dengan Markobar.

Kopi apa?

Kopi lokal, kami ambil bijinya langsung dari petani lokal.

Ide bisnis makanan ini sepertinya bukan hanya datang dari Mas Gibran, tapi Kaesang juga menyumbangkan ide. Bagaimana keluarga terlibat untuk menyumbangkan ide-ide bisnis ini?

Kalau saya sih yang paling intens membantu saya itu Kaesang ya. (Kaesang Pangarep adalah putra kedua Jokowi)

Kaesang terlihat paling getol mempromosikan, sampai kami sempat berpikir itu milik Kaesang?
Enggak apa. Sama aja.

Jadi ada permintaan khusus ke Kaesang atau Kaesang yang menawarkan diri?
Enggak usah disuruh saja (dia) sudah langsung promosi.

Bagaiman promosi produk lainnya?

Kalau promosi selama ini saya tidak memakai biaya marketing sama sekali. Kami benar-benar full pakai media sosial, instagram, twitter, facebook itu kan benar-benar gratis ya.

Seefektif apa promosi di media sosial?

Sangat efektif, karena pangsa pasar kita anak muda ya.

Belajar dari mana promosi bisnis di media sosial atau Mas Gibran punya latar belakang pendidikan soal itu?

Kalau latar belakang pendidikan saya tidak ada hubungannya sama sekali. Saya belajarnya marketing. Banyak diterapkan sekarang.

Contohnya?

Kalau misalnya di media sosial itu ada istilah customer advocate, customer itu bagi kami bukan raja, tapi sebagai marketing. Tiap kali orang makan, dia foto. Di-upload di instagram, di twitter, di instagram, itu marketing sudah jalan sendiri.

Waktu dipromokan di media sosial pesanan menjadi membludak, bagaimana Mas Gibran mengaturnya?

Kalau sebenarnya saya memakai media sosial untuk mem-boost sale sih, tapi lebih pada pengenalan pembukaan cabang saja.

Ada arahan tertentu waktu promosi di media sosial? Apakah boleh menggunakan ‘candaan’. Kemarin sempat ramai soal ‘martabak kampungan’. Itu bagaimana?

Kalau selama ini media sosialnya Chili Pari memang kadang-kadang saya pegang sendiri, tapi ada adminnya yang di bawah pengawasan saya. Jadi saya atur memang bahasanya terlalu formal. Kalau ada mention itu dijawab, harus dijawab.

Kalau ada yang mention urusan politik bukan dagangan?

Kami enggak menjawab.

Langsung dibalas “Opo tho?”

Iya, makanya biar orang enggak bosen aja. Kan enggak ada hubungannya kan. Itu enggak perlu dijawab, fokus pada dagangan. Kan orang biasanya nanyanya standard. Harganya berapa aja, sudah bisa Gojek belum.

Kami enggak perlu melayani, kami kan bukan politikus, kami jualan makanan.

Martabak ‘kampungan' sempat jadi trending di media sosial, apakah Mas Gibran tersinggung?

Enggak, kan Markobar memang asalnya dari Solo, dari kampung. Ada orang yang menyebut martabak kampungan ya enggak apa-apa sih. Memang dari Kampung. Dan saya tidak membalas, itu mengalir sendiri dari followers saya.

Kaesang menjawab soal Martabak Kampungan, ada teguran?

Enggak, masih dalam batas.

Enggak capek membalas mention?

Kadang-kadang capek.

Ngomong-ngomong soal passion bisnis Mas Gibran di makanan, apa memang dulu cita-cita jadi koki?

Enggak kepikiran, mengalir saja.

Tapi kalau di Chili Pari fotonya sedang memasak, apakah memang suka memasak dari kecil?

Suka sih suka masak.

Belajar masak khusus?

Kalau belajar enggak, kita sendiri saja. Sudah ada yang lebih jago sih.

Ada passion lain selain jualan, marketing, dan masak?

Enggak tahu ya, sementara itu dulu.

Ada kegiatan lain selain berbisnis makanan, seperti les bahasa inggris gratis?

Itu bukan bisnis, lebih semacam itu, kita menyisihkan sedikit dana untuk les bahasa gratisan. Muridnya 1.000, ada 16 lokasi di Solo.

Soal pelanggan, orang penasaran apakah pelanggan memilih Chili Pari karena milik anak Jokowi atau karena kualitasnya?

Ya kalau customer bisa menilai, kebetulan Chili Pari paling mahal se-Solo. Orang enggak sepolos itu lah, memesan katering karena nama anak presiden. Enggak mungkin, karena mereka kan keluar biaya yang gede banget. Mereka carinya kualitas pasti.

Apa yang membuat Chili Pari berbeda dari katering lainnya sehingga harganya lebih mahal?
Menunya. Kami juga konsep one-stop wedding solution.

Berapa kisaran harganya?

Dari harga Rp 69 juta untuk Rp 1.000 tamu.

Ada hobi lain yang ditekuni selain bisnis makanan?

Enggak ada.

Bagaimana dengan Olahraga?

Futsal. Sudah jarang sih. Semua olahraga saya ikut, sekarang males. Sekarang pulang kerja, tidur. Sudah enggak kayak dulu.

Senin-Minggu, kecuali hari Kamis Mas Gibran sibuk, apa perbedaannya?

Kalau orang katering kan sibuk-sibuknya Jumat, Sabtu, Minggu.

Adik-adik terinspirasi dengan bisnis Mas Gibran?

Enggak tahu, belum tahu passionnya apa. Pada belum kerja.

Tips untuk anak-anak muda yang ingin berbisnis tapi punya dana terbatas, haruskah melalui dari Jakarta?

Kalau untuk saya sendiri, saya memulai bisnis umur 22 tahun itu sudah telat. Kalau saya menyarankan memulai bisnis itu dari semuda mungkin. SMA mungkin. Mulai dari skala yang kecil dulu. Karena itu saya mulai bisnis dari Solo. Mulai dari yang kecil dulu. Kalau sudah berkembang baru kita bawa ke Jakarta.

Bagaimana cara mengumpulkan modalnya?

Kalau bisnis yang saya jalankan sekarang awalnya dananya dari Chili Pari semua, jadi memang Chili Pari awalnya memang pinjaman bank, kita pakai agunan. Ada sertifikat yang dijaminkan. Semua pengusaha pasti punya pinjaman, yang penting bisa mengangsur.

Untuk mereka yang tak punya jaminan?

Nabung dulu bisa, atau bikin bisnis dengan teman juga bisa. Kan enggak semuanya ini saya jalankan sendiri. Ada yang berempat dan bertiga.

Bisnis naik dan turun, pernah mengalami fase itu?

Biasa, katering itu sepi pas bulan Syuro. Tahun baru Jawa pasti sepi. Puasa sepi. Kan orang enggak ada yang nikah bulan puasa. Musim hujan, warungnya juga enggak ramai. Tapi sekarang sudah terbantu, kan delivery semua sekarang. Sangat terbantu.

Bagaimana menggaji karyawan dalam keadaan saat turun?

Kalau saya bisnis yang saya jalankan sebenarnya pegawai saya sedikit. Jadi kalau katering itu sistem yang saya jalankan itu kami pakai part time. Jadi pas ada event kita rekrut pegawai itu. Tim inti Chili Pari itu cuma 20 orang. Tapi kalau pas event Sabtu-Minggu, kita bisa rekrut part time bisa sampai ratusan orang.

Ada saran untuk anak muda di daerah bisa menemukan potensi bisnis di tempat asalnya?

Di tiap daerah itu kan beda ya, selera beda, lidah customer beda, kalau saya tiap kota, tiap cabang punya sistem yang beda-beda. Harganya beda, yang masak beda. Packaging beda. Kami enggak ada standard. Jadi kami memang adaptasi masing-masing. Markobar di Solo dan Jakarta beda (takaran) menteganya.

Tapi kalau bisnis makanan di daerah selalu menjanjikan?

Pasti.

Pesan terakhir untuk anak-anak yang mau berbisnis seperti Mas Gibran di seluruh Indonesia?

Memulai semuda mungkin. Enggak ada batasannya. Semuda mungkin, kalau SMA yang mulai dulu yang kecil, (memanfaatkan) jam istirahat sekolah.(rappler.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hebat! Begini Cerita 'Gurita' Bisnis Makanan Gibran dan Tempat Kursus Gratis dengan 1000 Siswa"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.