5 Hari Usai Wa Tiba Ditelan Ular Piton, Anak Semata Wayang Ungkap Cerita, Ibu Diseret “JIN” dan Pesan Terakhir

Beritaterheboh.com - Sherliati (14) yang baru duduk di bangku Kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), merupakan Putri semata wayang Almarhumah Wa Tiba (54).

Wa Tiba merupakan warga Lorong Gea, Desa Persiapan Lawela, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi korban ular piton.

Sherliati kepada tegas co., Selasa 19 juni 2018 menjelasakan, sebelum ibunya menjadi korban ular piton, dirinya bermimpi buruk. dalam mimpinya, ibunya sedang berada di kebun, tiba-tiba datang seorang laki-laki ber postur tinggi besar, dalam penglihatannya Sherliati melihat seperti jin, kemudian mereka bertengkar, lalu ibunya di seret-seret.

“Setelah saya bermimpi, paginya saya sampaikan sama mamaku, kalau saya mimpikan dia di seret-seret disekitaran kebun, tetapi dia tinggal jawab, jangan percaya mimpi yang seperti itu,”terangnya.



Selang berapa hari kemudian, ibunya meminta izin kepada anaknya untuk menengok kebunnya pada malam takbiran, sekitar pukul 19.00 wita Kamis 14 Juni 2018 lalu.

Cerita Sherliati, sebelum korban ditelan ular piton, ibunya berpesan agar menjaga nenek dan pamannya, waktu itu, sesaat korban akan meninggalkan rumah.

“Sebelum pergi di kebun, mamaku sempat titip pesan sama saya, katanya jaga baik-baik nenekmu itu, ko baik-baik sama om kamu, mungkin saya tidak bisa liat kamu lagi,”ungkapnya.



Kemudian ibuku langsung keluar rumah, sekitar 10 meter dari jarak rumah melewati pagar, anak korban mengikuti dari belakang, saat menengok kebelakang, ibunya melihat anaknya dibelakangnya langsung menyuruhnya pulang.

“Kata mamaku, ko pulangmi di rumah jangan ikuti saya, kemudian mama saya dia kembali dekati saya, baru dia perhatikan saya lama, langsung dia berkata lagi, dia suruh saya baik-baik dan jaga neneku, dia ulang lagi ucapannya, langsung dia peluk saya sambil dia menangis dengan ungkapan”Saya tidak liat kamu lagi,”seperti itu pesanya sama saya,”jelasnya.

Kemudian ibunya langsung meninggalkan rumah dengan suasana haru menuju di kebunnya yang jarak dari pemukiman warga sekitar 1 kilometer.

“Saya tunggu-tunggu mamaku malam itu, dia tidak pulang-pulang,saya gelisah tidak bisa tidur sampe saya pikir-pikir terus saya takut terjadi sesuatu sama mamaku, sama juga omku dan neneku kwatir sama mamaku, kemudian paginya saya disuruh sama neneku pergi cek di kebun, saya langsung pergi susul belum sampe di kebun saya liat sendalnya mamaku, dengan senternya dan pengikat rambutnya tercecer, tapi parangnya saya tidak liat, langsung saya teriak, tapi tidak ada jawaban, saya langsung lanjut menuju kebun saya cek, tiba di kebun, saya keliling cari, saya tidak liat juga, langsung saya pulang di rumah pergi kasih tau omku,”paparnya.

Kunjungi juga, https://tegas.co/desa-ini-di-muna-banyak-ular-piton-tni-polri-bakal-sisir/ dan https://tegas.co/putri-korban-ular-piton-terima-bantuan-pihak-polres-muna/  dan https://tegas.co/kapolres-muna-pimpin-penyisiran-desa-korban-ular-piton/  dan https://tegas.co/desa-ini-di-muna-banyak-ular-piton-tni-polri-bakal-sisir/

Mendengar keterangan Sherliati putri Wa Tiba, korban ular piton itu, om atau saudara korban langsung turun di kebun untuk memastikan keberadaan korban.

“Om saya sampai di kebun dia datang cari juga, tapi dia tidak dapat juga, langsung dia melapor sama warga dan pihak kepolisian, kemudian dicari rame-rame, setelah diliat ada tanda-tanda semak-semak yang berantakan, ada salah satu warga merupakan kepala kampung (RK) setempat menyatakan bahwa semak-semak yang rusak termerupakan jalanan ular. mendengar itu, semua kaget langsung melakukan penyisiran di sekitar tempat ditemukan barangnya mamaku yang tercecer. tib-tiba sekitar 10 meter ada salah satu warga melihat ada ular disekitran lubang yang lagi beristirahat, langsung dia berteriak “Ada ular” warga datang menangkap ular itu, lalu dibelah, ternyata saya punya mama yang ada di dalam perutnya ular itu, jadi apa yang ada di dalam mimpiku, sama dengan yang terjadi sama mamaku, lokasinya sama, bedanya yang di dalam mimpi orang besar yang seret-seret mamaku, tetapi kenyataan, mamaku ditelan ular,”kata anak korban.

Mimpi buruk kali kedua Sherliati

Setelah Wa Tiba dimakamkan, anak korban kembali mimpi, ibunya datang menemuinya. “Kata mamaku dalam mimpi itu, mau panggil juga bapakku ikut sama-sama dia,”pungkasnya.

Ular piton yang digolongkan mamalia ini memangsa manusia karena diperkirakan habitatnya mulai hilang, sehingga kekurangan makanan.

"Manusia sebetulnya bukan mangsa ular," kata Herna Hadi Prasetyo, dari lembaga penanganan ular, Sioux Indonesia.


"Namun kasus seperti di Muna itu terjadi, karena rusaknya habitat ular. Pembukaan lahan baru membuat tempat tinggal ular makin sempit yang tadinya merupakan daerah jelajah atau mencari makanan bagi ular berganti menjadi lahan atau permukiman," katanya pula.

Ritual Dofokokoe 

Peristiwa yang dialami Almarhumah Wa Tiba, wanita 54 tahun masih menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Kematiannya yang mengenaskan, menyisahkan pilu bagi keluarga, terlebih anak semata wayangnya bernama Wa Jona (14). Di antara insiden itu, rupanya terdapat cerita dari orang tua terdahulu yang masih dilakukan oleh masyarakat setempat, yakni ritual Dofokokoe. Namun belum diketahui, apakah kematian Wa Tiba ada kaitannya dengan ritual tersebut.

Menurut cerita para orang tua terdahulu, setiap membuka lahan baru mereka berkomunikasi dengan kawanan ular, seperti membuat perjanjian yang disebut Dofokokoe (disembunyikan) ular dalam gua.

Melalui ritual Kaago-ago dengan memberikan sesajen yang disajikan di atas daun Lapi, berupa telur dan ketupat. Setelah perjanjian itu selesai, baru ular keluar dari dalam gua untuk mencari makan.

Pelaksana Kepala Desa Lawela, La Fariz, mengatakan lokasi perkebunan Almarhumah Wa Tiba merupakan kawasan perkampungan orang tua terdahulu yang melaksanakan ritual Dofokokoe. Namun orang tua yang dipercaya dapat melakukan komunikasi dengan ular atau pawang ular telah meninggal, ritual itu pun tidak dilakukan lagi saat ini.

“Menurut cerita dulu sekitar sini (kebun korban), merupakan perkampungan orang tua terdahulu. Ritual itu juga masih dilakukan jika mau membuka lahan baru di sekitaran sini,” ungkap La Fariz kepada SultraKini.Com ketika melakukan penelusuran lokasi penemuan ular piton pemangka Wa Tiba bersama jajaran Polres Muna, Senin (18/6/2018).(Sultrakini.com/tegas.co)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "5 Hari Usai Wa Tiba Ditelan Ular Piton, Anak Semata Wayang Ungkap Cerita, Ibu Diseret “JIN” dan Pesan Terakhir"

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.